Setelah kudapatkan teman seperjuangan di “Sandal Jepit Gereja”
Thursday, December 3rd, 2009(satu lagi testimoni untuk buku “Sandal Jepit Gereja” - OBOR 2009)
Salam Damai Kristus,
Saya selesai membaca SANDAL JEPIT GEREJA. Empat hari sejak saya menerimanya dari Pak Anang. Dan selama empat hari itu mata saya bengkak gara-gara terharu saat terjebak dalam beberapa kisah yang menyentuh hati. Saya memang bukan oang peka yang bisa mengkritik karya orang lain. Selalu yang bisa saya lakukan hanyalah memuji. Bahkan mungkin, teman kita, Pak Panji Kristo itu sudah muak dengan pujian-pujian yang saya kirim ke e-mail dia seusai saya membaca salah satu tulisannya.
Seperti pernah saya katakan dalam akhir pertemuan kita berempat di rumah saya (kami sesama fesbuker sempat ‘jumpa darat’ di rumah Bu Rini -red.), bahwa saya nggak bisa marah-marah sama orang lain. Tapi saya sadar, orag yang saya puji pasti memang orang yang tepat untuk mendapatkannya. Salut buat pak Anang telah berani menulis ini tanpa kekhawatiran akan ada pihak-pihak yang mungkin keberatan atau bahkan tersinggung.
Sebelum membacanya, saya pikir (more…)
