Setelah kudapatkan teman seperjuangan di “Sandal Jepit Gereja”

(satu lagi testimoni untuk buku “Sandal Jepit Gereja” - OBOR 2009)

Sandal jepit GerejaSalam Damai Kristus,

Saya selesai membaca SANDAL JEPIT GEREJA. Empat hari sejak saya menerimanya dari Pak Anang. Dan selama empat hari itu mata saya bengkak gara-gara terharu saat terjebak dalam beberapa kisah yang menyentuh hati. Saya memang bukan oang peka yang bisa mengkritik karya orang lain. Selalu yang bisa saya lakukan hanyalah memuji. Bahkan mungkin, teman kita, Pak Panji Kristo itu sudah muak dengan pujian-pujian yang saya kirim ke e-mail dia seusai saya membaca salah satu tulisannya.
Seperti pernah saya katakan dalam akhir pertemuan kita berempat di rumah saya (kami sesama fesbuker sempat ‘jumpa darat’ di rumah Bu Rini -red.), bahwa saya nggak bisa marah-marah sama orang lain. Tapi saya sadar, orag yang saya puji pasti memang orang yang tepat untuk mendapatkannya. Salut buat pak Anang telah berani menulis ini tanpa kekhawatiran akan ada pihak-pihak yang mungkin keberatan atau bahkan tersinggung.

Sebelum membacanya, saya pikir buku Pak Anang berisi keluh kesah dan kesulitan-kesulitan seorang sandal jepit gereja yang selalu diinjak dan jadi pelindung. Nyatanya tidak. Anda begitu optimis dan kreatif dalam memimpin serta melayani. Itu patut untuk dicontoh. Membaca buku anda serasa mendapatkan teman seperjuangan. Saya yakin, pastilah masih ada kisah anda yang lebih menyakitkan dan menyentuh hati lagi. Seperti yang kami alami selama jadi ketua lingkungan. Tapi pastilah anda telah mencabut duri itu cepat-cepat agar luka yang anda rasakan cepat sembuh.

Pernahkah anda dibentak umat hanya karena dinilai lambat menerbitkan kartu KK? Saya pernah. Padahal dia baru mendaftar sebulan lalu. Mending kalau umat itu aktifis dan berkontribusi, datang ke acara lingkunganpun tak pernah dan tidak banyak orang yang mengenalnya karena jarang nongol. Saya waktu itu hanya menelan ludah, duduk di kursi hijau ruang tamu itu, lalu berbisik sendiri…mungkin hanya Yesus yang dengar…”suamiku jadi ketua lingkungan itu kan karena kerelaan hatinya, tidak ada yang membayar, tidak ada yang kasih honor….eh, tapi kok ada ya umat yang menuntutnya untuk menerbitkan KK seperti sedang ngurus SIM atau KTP.”

Sebenarnya maksud suami saya….KK itu belum juga diterbitkan karena ingin lebih mengenal dulu siapa umat baru itu…supaya kartu itu tidak disalahgunakan karena diberikan pada orang yang benar-benar sudah dengan meyakinan jadi warga lingkungan. Supaya umat itu tidak nggampangke. Tidak hanya kelihatan kalau sedang butuh. Untunglah Tuhan selalu punya jalan untuk mencabut duri-duri kami. Sehingga luka tak pernah meninggalkan infeksi, cuma bopeng kecil yang mudah dilupakan tanpa harus mendendam. Puji Tuhan. Mungkin saya sebaiknya menulis SANDAL JEPIT seri 2 kali ya…hehehehe….Karya yang ini sangat inspiratif.

Kemarin pemilihan ketua lingkungan di tempat saya. Pada ibu-ibu, saya kutipkan tulisan Pak Anang di bab terakhir yang KEDER Jadi KADER itu lho. “Bu, apa ibu-ibu tega membiarkan Pak Giri menjalani sisa hidupnya untuk mengurus anda? Bukankah sebaiknya ada regenerasi? Regenerasi kan berarti bagi-bagi berkat Tuhan, bu.” Soalnya suami saya mendapat suara terbanyak lagi. Lalu ada usulan dari umat, ketua lingkungan harus diganti. Suara terbanyak kedualah yang menggantikan posisi sebagai ketua lingkungan. Tapi dengan satu syarat….Pak Giri sebagai peraih suara terbanyak harus mau jadi Ketua wilayah …hahahaha… cotho tenan! Akhirnya jabatan yang lebih tinggi pun tak baik untuk ditolak…hahahaha….

Sandal Jepit Gereja oleh YB. Anang, perlu dibaca, oleh siapa saja, supaya tidak takut dan ragu untuk menerima tugas perutusan sebagai gembala awam di lingkungan basis. Jadi Ketua Lingkungan itu sakit-sakit enak. Sakitnya “Badanku memang sedikit jadi kurus” kata suami saya, enaknya “tapi istriku, eh, imanku jadi tambah gemuk saja.” Seperti saya tulis dalam “Jangan Pernah Menolak” di Warta Klara atau http://www.riniblogspot.com/. Baiklah, Pak Anang. Sukses selalu. Senang mengenal anda. Tuhan memberkati anda sekeluarga. Dari Rini Giri.

(Rini Giri adalah sahabat baru saya, umat paroki St. Klara. Kalem, santun, dan seorang penulis berbakat. Saya bersyukur bisa bertemu beliau dan bisa mewujudkan mimpi membuat naskah buku bersama!)

Reblog this post [with Zemanta]

Related posts:

  1. Beredar Buku “Sandal Jepit Gereja”
  2. Testimoni untuk buku “Sandal Jepit Gereja”
  3. Panjikristo :Inspirasi Seorang Ketua Lingkungan
  4. Trik Facebook: Mengatur Daftar Teman Yang Tampil di Facebook

Tags: ,

11 Responses to “Setelah kudapatkan teman seperjuangan di “Sandal Jepit Gereja””

  1. ahmad jais Says:

    ke tkp dulu cari informasi nya ah.makasih banyak mas.

  2. edza Says:

    mantap

  3. Hidup Untuk Berbagi Says:

    informasi nya ok

  4. shopping online Says:

    draw inspiration .. thx 4 share..

  5. barajakom Says:

    mantap

  6. Nicka Says:

    Nice posting, thank You

  7. Paroki Santo Arnoldus Janssen, Bekasi » Blog Archive » Antara Petugas Tatib dan Ketua Lingkungan Sinting Says:

    […] Dan dua kesintingan saya yang membuat dia geleng-geleng kepala (dia ungkap saat me-review buku saya “Sandal Jepit Gereja”) adalah saat saya mengompori umat di lingkungan saya yang cuma 25 keluarga untuk: menghadiahi rumah […]

  8. Berita Online Terkini Says:

    menarik banget nih kayaknya, mau nyari info dulu ah… makasih infonya

  9. Beasiswa Says:

    Terima kasih banyak atas rekomendasi bukunya.

  10. GROSIR Baju ANak Says:

    nice post, smuga bermanfaat

  11. answering service Says:

    It’s very nice article! Keep it up.

Leave a Reply


PHP Error Message

Parse error: syntax error, unexpected $end in /home/a5497961/public_html/wp-content/themes/esther/footer.php on line 44