Eneg!

Terus terang cuma kata “eneg” yang paling pas untuk menggamparkan reaksi saya tiap kali liat wajah tak dikenal terpampang di seantero pinggir jalan. Masih mending kalau wajah asing itu adalah foto model atau setidaknya wajah penjaja produk yang memang terseleksi dan fotogenik.

Lha yang ini adalah wajah aneh, sok alim, dengan gaya yang nyaris sama: foto close up, kadang miring sedikit, kalau yang laki selalu pakai jas dan berkopiah. Semuanya sama, cari dukungan atas pencalonan mereka sebagai calon “wakil rakyat” atau pejabat.

Jujur saja, saya nggak rela kalau wajah kota dikotori oleh wajah mereka. Masalahnya, jumlah spanduk sudah overdosis. Aujubilah banyaknya. Nggak peduli apa itu PAN, PKS, Golkar, ataupun yang lainnya. Bukan karena wajah mereka kotor, tapi kotanya yang menjadi kotor, tak harmoni lagi.

Masalahnya pemasangan spanduk tak kenal musim. Sepanjang tahun dan entah kapan akan berakhir. Event apa pun dijadikan pembenaran atas pemasangan spanduk. Hari kemarin mereka mengucap: “Dirgahayu Hut Kemerdekaan RI ” (kalimat yang salah kaprah sebenarnya), kali lain mereka berucap: “H. Muksin, SH, MSc, mengucapkan selamat jalan kepada Tamu-tamu Alloh..” dan barusan, ucapan selamat Idul fitri kembali menyesaki pinggir jalan dengan (tentu saja) tak lupa memajang wajah asing mereka.

Seolah mereka tak peduli bahwa kampanye hitam secara tak langsung terjadi di sekian DPRD dan kantor pemerintah. Pelakunya tak lain rekan mereka sendiri yang dengan pongah berebut uang rakyat.

Kalau begini, tampaknya sah kalau saya bergumam: Golput aja ah! Karena GOLPUT tak pernah ingkar janji!

Related posts:

  1. Trik Photoshop: Pasang wajah di billboard