Archive for the ‘religiositas’ Category

Materi Bina Iman 14 Februari 2010

Friday, February 12th, 2010
Children in a Primary Education School in ParisImage via Wikipedia

Kawan-kawan terkasih, saya posting materi bina iman untuk hari Tuhan hari Minggu 14 Februari 2010. Bacaan saya ambil dari kalender liturgi. Masih sangat sederhana memang, mengingat saya masih awam dalam hal bina iman. Tapi silakan saja bila berkenan untuk memakai.
Link download http://0990a990.thesefiles.com Tuhan memberkati anak-anak beriman..!

Reblog this post [with Zemanta]

Setelah kudapatkan teman seperjuangan di “Sandal Jepit Gereja”

Thursday, December 3rd, 2009

(satu lagi testimoni untuk buku “Sandal Jepit Gereja” - OBOR 2009)

Sandal jepit GerejaSalam Damai Kristus,

Saya selesai membaca SANDAL JEPIT GEREJA. Empat hari sejak saya menerimanya dari Pak Anang. Dan selama empat hari itu mata saya bengkak gara-gara terharu saat terjebak dalam beberapa kisah yang menyentuh hati. Saya memang bukan oang peka yang bisa mengkritik karya orang lain. Selalu yang bisa saya lakukan hanyalah memuji. Bahkan mungkin, teman kita, Pak Panji Kristo itu sudah muak dengan pujian-pujian yang saya kirim ke e-mail dia seusai saya membaca salah satu tulisannya.
Seperti pernah saya katakan dalam akhir pertemuan kita berempat di rumah saya (kami sesama fesbuker sempat ‘jumpa darat’ di rumah Bu Rini -red.), bahwa saya nggak bisa marah-marah sama orang lain. Tapi saya sadar, orag yang saya puji pasti memang orang yang tepat untuk mendapatkannya. Salut buat pak Anang telah berani menulis ini tanpa kekhawatiran akan ada pihak-pihak yang mungkin keberatan atau bahkan tersinggung.

Sebelum membacanya, saya pikir (more…)

Panjikristo :Inspirasi Seorang Ketua Lingkungan

Monday, November 30th, 2009
Gerai majalah BahauImage via Wikipedia

Sandal jepit acapkali diidentikkan dengan kesederhanaan, kerendah-hatian dan menjadi simbol orang kecil atau rakyat jelata. Bahkan dalam hirarki gereja Katolik, seorang ketua lingkungan sebenanya adalah sandal jepit.

Benarkah demikian? Bukankah seorang ketua iingkungan yang rajin, aktif dan peduli pada warganya bisa dikatakan lebih baik daripada seorang pastor yang acuh tak acuh pada umatnya? Seorang Ketua lingkungan bisa dikenal dan karya-karya nyatanya bersentuhan langsung dengan warga kelas bawah. Tanpa peran serta seorang ketua lingkungan, komunitas umat beriman dalam suatu teritori mungkin tidak akan pernah utuh. Padahal komunitas yang terpadu adalah tiang pancang sebuah gereja yang sesungguhnya.

Pengalaman sebagai Ketua Lingkungan mendorong Anang YB menulis “Sandal Jepit Gereja”. Dia mengandaikan ketua lingkungan sebagai pejabat tinggi yang paling rendah. Dia menyadarkan kita bahwa seorang ketua lingkungan bukan suatu jabatan sepele. Seorang ketua lingkungan bersinggungan langsung dengan unsur-unsur gereja paling kecil, yaitu umatnya. Dan tugas itu tidak bisa diabaikan begitu saja. “Sandal Jepit Gereja” mencubit kita, sehingga terbangun dan membika mata lebar-lebar bahwa mereka tidak bisa dipandang dengan sebelah mata.

Buku ini mengajak kita berefleksi dengan keadaan dan situasi serta perkembangan masa depan Gereja. Dalam buku ini dikisahkan bahwa akar pun dapat berfungsi lebih baik daripada rotan. Rotan yang tidak dipergunakan tidak ada artinya, dibandingkan akar yang berfungsi atau difungsikan. Sebuah akar, jika difungsikan dengan baik, akan lebih baik daripada rotan yang disimpan.

Seorang ketua Lingkungan pun kerap masuk daftar buruan para Calon Anggota Dewan. Ada saja ulah mereka untuk memohon agar sang Keling (ketua lingkungan) mempengaruhi warganya untuk memilih nama salah seorang caleg. Bagaimana sang tokoh menghadapi hal itu?

Kisah-kisah lainnya terkait hubungan dengan agama lain dalam suatu komunitas, menghadapi warga yang mantan pejabat dan susah diatur, bagaimana keraguan sang ketua Lingkungan untuk memenuhi harapan gereja terhadapnya, serta pengorbanan yang harus dilakukannya.

Sandal Jepit laksana kumpulan reality show yang inspiratif dari seorang ketua lingkungan tentang hidup menggereja yang dibukukan. (panjikristo)

Sumber: Majalah Hidup 29 November 2009

Reblog this post [with Zemanta]

Tuaian Banyak, Tetapi…

Thursday, May 7th, 2009

lektor,qoriah qori

“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”(Mat 9:37 -38)

Saatnya Mengosongkan Stempel Di Kantong

Friday, December 19th, 2008
Double-crested Cormorant -- Humber Bay Park (T...

Image via Wikipedia

Bila kau yakin bahwa manusia itu unik, mengapa pula kantongmu masih penuh dengan stempel ?

Hari mulai merambat petang, suara mesin diesel beradu keras dengan pekik satwa nun di dalam hutan sana. Kami tidak jadi memasang tenda. Danton menawari kami untuk menginap di barak. Danton (komandan peleton) yang satu ini masih muda. Barusan naik pangkat. Pantas saja sewaktu kami singgah, sekitar jam 10 pagi, matanya masih merah.

“kami barusan bangun. Semalaman begadang. Beberapa anggota naik pangkat.” Tuturnya merendah. Padahal satu diantara yang naik pangkat adalah dia juga. Barak yang mereka tawarkan kepada kami terletak di belakang Pos Tentara Terpadu Indonesia-Malaysia Simanggaris, sekitar 700 meter dari garis batas kedua negara, di ujung Kalimantan sana.

Di sekitar lokasi inilah tim kami datang untuk mencari lokasi dan berencana membuat disain tata ruang pos lintas batas darat plus fasiltas pendukungnya. Tadinya kami kira kami harus membuat tenda di tengah hutan, nyatanya ada danton yang baik.
(more…)

Pondok Untuk Pak Totok

Friday, December 5th, 2008

Selamat pagi, Tuhan!
Semoga bagiMu tidak ada hari yang terlalu pagi untuk menyapaMu.
Entah kenapa hari ini aku terusik dengan sepenggal tanya yang dilontarkan sahabatku, “Why I’m So Special…”
Ah, apa benar aku cukup spesial…
Spesial di mata siapa? Bagi kedua buah hatiku? Bagi pasangan hidupku? Atau, cukup spesialkah aku dimataMu? Uups, sorry, Tuhan! Aku yakin bahwa engkau menciptakanku bukan dengan template. Aku memang kau ciptakan unik, tanpa padanan. Tapi, cukup spesialkah diriku? Setidaknya siapakah diriku hingga kau pakai untuk memimpin beberapa umatMu sebagai seorang ketua lingkungan?
Tak henti kulantunkan lagu ini sebagai luapan tanya tak berujung:

“hanya debulah aku.. di alas kakiMu, Tuhan…”

***

gereja katholik

Tuhanku,
Apakah Engkau memakai diriku karena bekal kemampuan merangkai kata lewat tulisan yang kau lekatkan didiriku?
Ya, moga-moga Engkau masih ingat apa yang kulakukan dua bulan lalu untuk Pak Totok.
Awalnya, otakku terlalu tumpul untuk memilih acara paskah yang paling berkesan di tahun ini. Untung saja Engkau buka mataku! Engkau perlihatkan sosok Pak Totok pada saat yang tepat.

Nama lengkapnya adalah Agustinus Budiasto. Pada usia mendekati senja (64 tahun) dia tinggal di saung non-permanen. Saung tersebut hanya berupa material kayu-kayu bekas, tanpa pintu, tanpa tempat tidur yang cukup panjang untuk meluruskan punggung, tanpa dinding, dan pasti bocor bila hujan. Saung ini berdiri di sebelah areal yang dulunya diperuntukkan bagi pembuangan sampah sementara. Keberadaan dan kondisi saung ini sangat kontras dengan bangunan di sekitarnya yang rata-rata sudah berlantai dua.

Kehidupan ekonomi Pak Totok pun sama memprihatinkan seperti kondisi tempat tinggalnya. Oleh masyarakat sekitar, Pak Totok dipercaya menjadi petugas keamanan dengan honor sekitar tiga ratus ribu per bulan. Untunglah kehidupan religiositas Pak Totok mampu menjadi teladan bagi umat yang lain. Setiap minggu dia pasti menghadapMu di gereja jam enam pagi. Bila tak cukup uang untuk membayar angkot, dia pakai sepedanya, atau kalau tidak, ditempuhnya dengan jalan kaki walau perlu satu jam untuk sampai ke rumahMu. Sungguh teladan yang luar biasa.

Tak ada hal lain yang kupikirkan selain keinginan melakukan “bedah rumah” untuk Pak Totok!
Berbekal talenta ‘membual” lewat tulisan yang Kau berikan padaku, kubuat selebaran provokasi untuk umat di lingkunganku. Ini dia tulisan untuk mengompori mereka:

Kami menantang Anda untuk memberikan satu ide dalam rangka gerakan AKSI NYATA PASKAH! Kira-kira kegiatan apa yang paling dibutuhkan dan bermanfaat untuk sesama kita? Apakah mengunjungi panti asuhan dengan menyewa bis seharga 1 juta? Atau membagi berkarung-karung beras? Atau cukup dengan merebus telur dan mengundang anak-anak untuk mencarinya?
Ataukah justeru di sekitar rumah Anda ada umat Tuhan yang basah kedinginan saat hujan, perut koroncongan saat anda tak sanggup lagi menghabiskan makan malam ? Apa yang bisa Anda perbuat untuk orang-orang seperti mereka ?

Hahaha.. kadang aku merasa terlalu nakal dalam memprovokasi. Tapi biarin! Dan nyatanya segalanya menjadi begitu mudah untuk dilaksanakan.
“Saya mau menyumbang batu bata. Kebetulan masih ada beberapa ratus bata tidak terpakai di depan rumah saya,” kata Pak Aliang. Ah, begitu mengharukan. Kenapa? Ya karena Pak Aliang adalah buruh pabrik. Istrinya korban PHK sehingga setiap sore selepas kerja di pabrik, Pak Aliang masih harus nongkrong di pintu tol Bekasi timur untuk menjadi tukang ojek sampai larut malam.

Masih dengan modal talenta menulis, kubuat proposal ke gereja. Sejujurnya Tuhan, aku begitu pesimis, proposal ini apakah bakal dilirik. Sebab hanya kegiatan yang diperuntukkan bagi banyak orang yang biasanya mendapat dana. Sementara kegiatanku semata-mata untuk kepentingan satu orang. Pak Totok saja.
Tapi kuyakin, Engkau pasti turut bekerja. Proposal pun kususun. Untuk mengetes apakah proposal tersebut punya “daya magis”, kusuruh sahabatku, Pak Sius untuk membacanya. Siapa itu Pak Sius? Hehe.. dia orang Flores, lumayan galak, kalau ngomong tak pernah bisa pelan. Kalau lagi emosi hiii..
Aku bersyukur. Pak Sius matanya berkaca-kaca saat membaca proposalku… Heheehe, kena kau!
Tuhanku, segalanya benar-benar menjadi mudah. Banyak yang tergerak mengulurkan tangan. Dan singkat cerita, enam hari cukup untuk mewujudkan pondok untuk Pak Totok…


Tuhan, terima kasih atas bekal talenta dariMu. Semua ini menjadikanku unik dan semoga cukup spesial bagi sesama. Terima kasih atas pelibatan diriku dalam karya penciptaanMu yang terus berlangsung. Kini dan sepanjang masa.

“JanjiMu seperti fajar pagi hari…
yang tiada pernah terlambat bersinar…
CintaMu seperti sungai yang mengalir…
Dan kutahu betapa dalam kasihMu!”

original post by anang, yb


PHP Error Message

Parse error: syntax error, unexpected $end in /home/a5497961/public_html/wp-content/themes/esther/footer.php on line 44