Bahkan Seorang Master Engineering Lulusan Jerman Pun Berjualan Batik
Thursday, October 1st, 2009Awalnya saya tidak mengira bila kawan lama saya ini adalah seorang pedagang batik. Dulu sekali saya begitu dekat dengan dia. Pekerjaan dan ketidaksukaan kepada boss di kantor mempersatukan kami. Perpisahan kami menjelang perusahaan bangkrut sempat membuat saya dan dia tak begitu intens. Kami pun berpisah. Saya memilih mengejar receh sebagai seorang geografer frelance, sedangkan dia melayang ke Jerman memburu impian meraih gelar Master, Geomatic Engineering.
Sampai kini, saya dan dia belum ketemu lagi secara langsung. Tapi SMS dari dia beberapa minggu lalu memaksa saya mengerutkan kening. Nggak salah tuh?, kata saya dalam hati. Buru-buru saya tenteng ponsel jadul saya ke dekat laptop dan segera berselancar ke alamat situs yang dia akui sebagai situs dia untuk berjualan batik. Edan, ternyata betul!
Batik-cirebon.com … itu dia situs yang membuat saya geleng-geleng kepala. Kok bisa kawan perempuan saya yang master lulusan Jerman dan sempat mengantongi International Certified Trainer untuk GPS Survey dan Mapping berjualan batik? Penasaran yang menggumpal di otak saya membuat saya mantap untuk segera membuatkan satu wawancara online untuk dia. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Niat awal sekadar menggali inspirasi untuk melengkapi naskah buku ke empat saya akhirnya justeru menemukan satu mutiara yang harus segera saya gosok! Ini unik dan harus segera tulis!
***
“Kenapa batik Cirebon? Hahaha.. Coz I ‘m 100 persen Cireboneese,” jawab dia saat saya tanya kenapa dia memilih hanya menjual batik cirebon. Dasar tukang ngomong, daftar pertanyaan wawancara online yang awalnya cuma beberapa lembar akhirnya setelah dia jawab menggelembung menjadi 21 halaman. Dan, saya tidak tega untuk menyunat bahkan mengganti kata-kata yang dia tuliskan. Saya tidak mau “luapan optimis” dia saat memaparkan kecintaan pada batik Cirebon -batik leluhurnya- menjadi pudar gara-gara saya mengedit dengan semangat sok tahu.
“Saya hapal betul motif batik Cirebon, tempat asalnya, pengrajinnya, ikatan emosi secara kultural lebih kuat. Saya bisa seharian ngobrol dengan pengrajin saya tanpa ada rasa curiga, karena saya mengerti bahasa mereka dan mereka mengerti bahasa saya. Karena saya tahu persis keluarga mereka, dan mereka tau persis pula dimana saya tinggal, siapa orang tua saya, teman-teman saya yang juga teman mereka,” tutur kawan saya ini penuh rasa bangga.
Kawan saya ini pun tak memandang pengrajin batik sekadar bagian dari mata rantai bisnisnya. “Beri pengrajin penghargaan, lanjut kawan saya berbagi kiat. “Misalnya, ketika batik saya dipakai Pak Menteri Pekerjaan Umum, saya bilang ke mereka, batik mereka di pakai sampai pak Menteri lho.. Atau ketika seorang perancang terkenal
membeli batik saya, saya bilang si perancang itu pakai batik kalian lho. Atau ketika kain saya dipinjam untuk pemotretan majalah, saya tunjukkan majalahnya. Ini lho batik kalian, jadi mereka juga punya pride karyanya dihargai. Tidak hanya sekadar dari harga yang saya beli, tapi dari prestasi-prestasi yang saya dapat adalah bagian dari kerja keras mereka juga.”
***
Situs batik-cirebon.com tidaklah terlalu elok apalagi kalau Anda terbiasa berselancar di dunia maya. Sekali pandang, Anda bakal langsung tahu kalau situs -persisnya saya sebut sebagai blog- tersebut dibuat di layanan blog gratisan bernama blogger. Template atau disain tampilannya pun masih menggunakan template standar, Kalau dia mau, lewat google.com kawan saya ini bisa mencari ribuan disain tampilan blog yang labih menawan. Biar pun begitu, jangan tanya seberapa serius dia menangani situs sekaligus etalase ini.
“Untuk batik, biasanya Rabu sesi foto, kemudian kamis editing dan Jumat di-upload. Maksudnya, karena biasanya customer kami orang kantoran, Jumat sore kadang mereka suka banyak waktu luang. Nah… di saat waktu itulah kami masuk, atau pas weekend, ibu-ibu kan suka banyak waktu ya browsing pada saat weekend,” cerita dia soal jadwal mengelola situs.
Yang unik, web ini menggunakan dua bahasa sekaligus. Inggris dan Indonesia. Trik agar bisa Go International?
” O ya pasti itu. Alhamdulillah sih, customer kami bisa dibilang worldwide, dari ujung Eropa sampai Afrika.” Saya pun cuma bisa geleng-geleng kepala membaca penuturan dia yang bagi saya ini adalah sebuah miracle. Batik Cirebon yang dijajakan di web sederhana digandrungi orang sejagat…? Ck..ck…
***
Tak sabar rasanya saya menunggu buku saya yang berjudul “Kerja di Rumah Emang ‘Napa?” terpajang di toko buku pada pertengahan Nopember tahun ini. Saya yakin 21 halaman di dalamnya bakal membawa inspsirasi dan motivasi bagi siapa pun untuk bekerja dengan sepenuh hati. Novi Trihastuti -kawan saya tadi- tak sekadar menjadi bumbu penyebab dari buku saya. Optimisme yang dia pancarkan saat mengurai kesuksesan berjualan batik di sela-sela profesi dia sebagai seorang geodet dan pengurus Ikatan Surveyor Indonesia (dan mengurusi butik di ITC Kuningan, Jakarta) saya yakini bakal membakar semangat para entrepreneur yang terkadang melemah semangatnya.
Nov, jangan ge-er dengan tulisan saya ini ya … Nyatanya pilihan kamu memang unik dan inspiratif!
