Archive for February, 2009

MENCIPTAKAN LEAD, ISI, DAN PENUTUP TULISAN YANG SEKSI

Monday, February 23rd, 2009

“Mana yang biasa lebih dulu Anda lakukan: mencari judul, membuat lead atau membuat penutup?”

An example of a roller coaster, one of the sta...Image via Wikipedia

Menulis sangat mengasyikkan. Bila ide muncul rasanya pikiran begitu terbebani bila tak buru-buru ditumpahkan. Layaknya air laut yang bergejolak pasang saat purnama. Ide bisa muncul da

lam bentuk apa saja. Ada kalanya tiba-tiba tercetus satu frase indah, unik, dan seksi. Aha! ini sangat pas untuk judul…. Kali lain, berseliweran satu paragraf pendek di otak kita yang terdengar nakal dan penuh rangsangan. Hmm… siapa sih yang tidak bakal terangsang bila paragraf ini saya pajang sebagai lead?
Jadi, tidak peduli apa pun yang bersliweran di otak kita -entah itu bakal judul, bakal lead, atau bakal penutup- tangkap segera. Tuliskan!

Sama seperti nyamuk yang nemplok di tengkuk kita. Langsung saja tepuk, tidak usah dipikirkan apakah itu nyamuk demam berdarah atau nyamuk demam berair….
Bagi saya, merangkai satu tulisan ibarat membangun jembatan gantung. (more…)

LAunceston, Hobart, And Devonport Accommodation

Wednesday, February 18th, 2009

Welcome to Devonport! Devonport is a town in the north-west of Tasmania, Australia, at the mouth of the Mersey River. It, along with the slighter city of Burnie, are the major regional centers of the north-west of the state. To guests to Tasmania, it is mostly known as the port for the Spirit of Tasmania ferries - Spirit I and II travel to Melbourne, Victoria, and Spirit III to Sydney, New South Wales. For travelers seeking Devonport Accommodation, you can find international standard rooms with four-star service is available from USD$78.00.
Hobart is the second-oldest city in Australia after Sydney. For the best in Hobart accommodation, it’s easy to choose Hobart Accommodation. For example, for group travelers you may like better a Hobart apartment, starting from USD$72.00
Whether you are scheduling a well-deserved getaway, travelling for business or pleasure, it’s easy to book Launceston Accommodation, cheap flights and get car rental can meet all your needs with an impressive range of facilities.

Reblog this post [with Zemanta]

Dua Potong Bebek Pedes

Wednesday, February 11th, 2009

Orang Jawa, khususnya Jogja.. lebih khusus lagi wong mbuantul seperti saya ini tidak begitu mengenal lauk ikan dan lauk bebek. Biarpun tinggal di pesisir Parangtritis, tapi sejak dulu, pantai tersebut memang bukanlah pantai nelayan. Selain ombaknya tinggi, wong mbuantul sudah gemah ripah loh jinawi dengan hamparan padi di tanah yang super subur, berkah dari letusan Gunung Merapi. Jadi ngapain juga musti cari lauk sampai ke tengah laut?

Maka jangan kaget kalau orang Jawa tiap makan daging ayam bakal menyebut “mangan iwak pitik”.  Padahal “iwak” dalam arti harafiah adalah “ikan”, dan “pitik” adalah  ayam. Jadi “mangan iwak pitik” artinya makan ikan ayam? hehehe… Mungkin ini pancaran dari keogahan orang Jawa untuk mengkonsumsi ikan yang sebenarnya.

Tak cuma ikan, orang Jawa pun jarang makan daging bebek. Kalau tak percaya, silakan lacak pustaka resep masakan Jawa yang berbahan daging bebek. Tak banyak, bukan?

Jadi, kalau ada orang Jawa sampai makan daging bebek pastilah dia seorang yang nekad… Orang Jawa terlanjur punya stigma kalau daging bebek itu rasanya “langu” (nggak tau deh terjemahannya apa…) dan pastinya susah masaknya.

***

Sebagai seorang penganggur alias bapak rumah tangga, pastilah referensi saya soal jajanan di luar sana tak begitu banyak. Variasi makan lebih banyak saya peroleh kalau nyonya saya pulang kantor membawa “kelebihan” (nggak enak kalau nyebut sebagai “sisa”) snack rapat di kantornya. Mulai dari kroket isi keju, ikan ayam-ayaman, sampai yang terakhir… bebek goreng lombok ijo!

Masakan yang terakhir ini saya peroleh pas saya ulang tahun kemaren. Nyonya saya sengaja membawa dua potong bebek pedes karena bossnya juga berulang tahun pada hari yg sama. Jujur saja dalam usia nyaris kepala empat, -seperti yg saya bilang tadi- saya menikmati lauk bebek belum sebanyak jumlah presiden Indonesia. Jadi, oleh-oleh isteri berupa lauk yang asing tersebut saya sambut dengan super antusias ..

Enak nggak? Lumayan mak nyuzz… Lihat saja gambar di bawah ini…

bebek goreng mak enyos

Mantap kan..? Saya tak tahu persis bagaimana masakan ini dihidangkan di tempat aslinya karena saya terima bebek ini sudah dalam bungkus kardus seadanya. Tapi yakinlah… tak ada rasa amis. Bumbunya pas gurihnya. Dan yang paling bikin kita untuk menyikat habis bebek goreng ini adalah sambel yang dibuat dari cabe ijo. Biar lebih afdol, daging bebek goreng ini musti “dikrawu” alias dicampur dulu dengan sambel lombok ijo, jangan makan dengan gaya colek…

Bisa jadi, bebek pedes ini bakal lebih lezat lagi kalau dinikmati saat masih hangat. Maklum saya menerima oleh-oleh bebek goreng ini sudah jam 7 malem, padahal isteri saya mulai mbungkusnya pas jam makan siang di kantor. Tapi nggak masalah. Kali lain, saya pingin menikmati bebek pedes ini langsung di sumbernya yaitu di warung makan “Bebek eNyos”. Lokasinya sekitar 200 meter dari pom bensin Buperta Cibubur, ke arah Cileungsi.

Mau saya traktir? Tunggu saya ulang tahun ya…

Reblog this post [with Zemanta]

PHP Error Message

Parse error: syntax error, unexpected $end in /home/a5497961/public_html/wp-content/themes/esther/footer.php on line 44