Orang Jawa, khususnya Jogja.. lebih khusus lagi wong mbuantul seperti saya ini tidak begitu mengenal lauk ikan dan lauk bebek. Biarpun tinggal di pesisir Parangtritis, tapi sejak dulu, pantai tersebut memang bukanlah pantai nelayan. Selain ombaknya tinggi, wong mbuantul sudah gemah ripah loh jinawi dengan hamparan padi di tanah yang super subur, berkah dari letusan Gunung Merapi. Jadi ngapain juga musti cari lauk sampai ke tengah laut?
Maka jangan kaget kalau orang Jawa tiap makan daging ayam bakal menyebut “mangan iwak pitik”. Padahal “iwak” dalam arti harafiah adalah “ikan”, dan “pitik” adalah ayam. Jadi “mangan iwak pitik” artinya makan ikan ayam? hehehe… Mungkin ini pancaran dari keogahan orang Jawa untuk mengkonsumsi ikan yang sebenarnya.
Tak cuma ikan, orang Jawa pun jarang makan daging bebek. Kalau tak percaya, silakan lacak pustaka resep masakan Jawa yang berbahan daging bebek. Tak banyak, bukan?
Jadi, kalau ada orang Jawa sampai makan daging bebek pastilah dia seorang yang nekad… Orang Jawa terlanjur punya stigma kalau daging bebek itu rasanya “langu” (nggak tau deh terjemahannya apa…) dan pastinya susah masaknya.
***
Sebagai seorang penganggur alias bapak rumah tangga, pastilah referensi saya soal jajanan di luar sana tak begitu banyak. Variasi makan lebih banyak saya peroleh kalau nyonya saya pulang kantor membawa “kelebihan” (nggak enak kalau nyebut sebagai “sisa”) snack rapat di kantornya. Mulai dari kroket isi keju, ikan ayam-ayaman, sampai yang terakhir… bebek goreng lombok ijo!
Masakan yang terakhir ini saya peroleh pas saya ulang tahun kemaren. Nyonya saya sengaja membawa dua potong bebek pedes karena bossnya juga berulang tahun pada hari yg sama. Jujur saja dalam usia nyaris kepala empat, -seperti yg saya bilang tadi- saya menikmati lauk bebek belum sebanyak jumlah presiden Indonesia. Jadi, oleh-oleh isteri berupa lauk yang asing tersebut saya sambut dengan super antusias ..
Enak nggak? Lumayan mak nyuzz… Lihat saja gambar di bawah ini…

Mantap kan..? Saya tak tahu persis bagaimana masakan ini dihidangkan di tempat aslinya karena saya terima bebek ini sudah dalam bungkus kardus seadanya. Tapi yakinlah… tak ada rasa amis. Bumbunya pas gurihnya. Dan yang paling bikin kita untuk menyikat habis bebek goreng ini adalah sambel yang dibuat dari cabe ijo. Biar lebih afdol, daging bebek goreng ini musti “dikrawu” alias dicampur dulu dengan sambel lombok ijo, jangan makan dengan gaya colek…
Bisa jadi, bebek pedes ini bakal lebih lezat lagi kalau dinikmati saat masih hangat. Maklum saya menerima oleh-oleh bebek goreng ini sudah jam 7 malem, padahal isteri saya mulai mbungkusnya pas jam makan siang di kantor. Tapi nggak masalah. Kali lain, saya pingin menikmati bebek pedes ini langsung di sumbernya yaitu di warung makan “Bebek eNyos”. Lokasinya sekitar 200 meter dari pom bensin Buperta Cibubur, ke arah Cileungsi.
Mau saya traktir? Tunggu saya ulang tahun ya…