Jejak Geografer

mencintai negeri dengan jelajahi pertiwi

The real secret to small business success has nothing to do with technology tools, the internet or anything like that. In fact, it isn’t even a real secret. It has been around since man started to communicate. It’s WORDS!

Words carry enormous power. They can make you laugh hysterically, or destroy a relationship or friendship. Words have more power in them than any other tool at your disposal.

Effective use of words, especially in business, means skyrocketing sales, satisfied clients, happy employees, and a profitable and secure future. Yet, less than 1% of small entrepreneur businesses use words with continue reading…

Keyword Density

No comments

Keyword density is an indicator of the number of times the selected keyword appears in the web page. But mind you, keywords shouldn’t be over used, but should be just sufficient enough to appear at important places.

If you repeat your keywords with every other word on every line, then your site will probably be rejected as an artificial site or spam site.

Keyword density is always expressed as a percentage of continue reading…

pay per post and me

2 comments

all right The weak customer chooses the understandable rack is it nice to hear it?

MY LIFE IS TO OPEN MY BO(R)OK

24 comments

Review buku:

Judul: “My Life is an Open Book”

Penulis: G. Lini Hanafiah

Apakah saya harus merasa beruntung karena dapat mengenal G. Lini Hanafiah sesaat sebelum membaca buku “My Life is an Open Book”? Atau malah sebaliknya, perjumpaanku dengan si penulis buku itu justeru mengurangi sensasi emosional yang semestinya bisa kureguk di setiap halaman bukunya?

Lini menulis layaknya sedang memegang kemudi bis kota rombeng jurusan Tanah Abang-Pasar Minggu. Jangan harap Anda bakal diberi kesempatan untuk sejenak senyum-senyum kecil sambil memelototi deretan karyawati seksi yang sedang menunggu bis di sepanjang jalan Gatot Soebroto. Anda cuma penumpang di bis yang dia kendarai. Anda cuma continue reading…

(satu lagi testimoni untuk buku “Sandal Jepit Gereja” - OBOR 2009)

Sandal jepit GerejaSalam Damai Kristus,

Saya selesai membaca SANDAL JEPIT GEREJA. Empat hari sejak saya menerimanya dari Pak Anang. Dan selama empat hari itu mata saya bengkak gara-gara terharu saat terjebak dalam beberapa kisah yang menyentuh hati. Saya memang bukan oang peka yang bisa mengkritik karya orang lain. Selalu yang bisa saya lakukan hanyalah memuji. Bahkan mungkin, teman kita, Pak Panji Kristo itu sudah muak dengan pujian-pujian yang saya kirim ke e-mail dia seusai saya membaca salah satu tulisannya.
Seperti pernah saya katakan dalam akhir pertemuan kita berempat di rumah saya (kami sesama fesbuker sempat ‘jumpa darat’ di rumah Bu Rini -red.), bahwa saya nggak bisa marah-marah sama orang lain. Tapi saya sadar, orag yang saya puji pasti memang orang yang tepat untuk mendapatkannya. Salut buat pak Anang telah berani menulis ini tanpa kekhawatiran akan ada pihak-pihak yang mungkin keberatan atau bahkan tersinggung.

Sebelum membacanya, saya pikir continue reading…

Gerai majalah BahauImage via Wikipedia

Sandal jepit acapkali diidentikkan dengan kesederhanaan, kerendah-hatian dan menjadi simbol orang kecil atau rakyat jelata. Bahkan dalam hirarki gereja Katolik, seorang ketua lingkungan sebenanya adalah sandal jepit.

Benarkah demikian? Bukankah seorang ketua iingkungan yang rajin, aktif dan peduli pada warganya bisa dikatakan lebih baik daripada seorang pastor yang acuh tak acuh pada umatnya? Seorang Ketua lingkungan bisa dikenal dan karya-karya nyatanya bersentuhan langsung dengan warga kelas bawah. Tanpa peran serta seorang ketua lingkungan, komunitas umat beriman dalam suatu teritori mungkin tidak akan pernah utuh. Padahal komunitas yang terpadu adalah tiang pancang sebuah gereja yang sesungguhnya.

Pengalaman sebagai Ketua Lingkungan mendorong Anang YB menulis “Sandal Jepit Gereja”. Dia mengandaikan ketua lingkungan sebagai pejabat tinggi yang paling rendah. Dia menyadarkan kita bahwa seorang ketua lingkungan bukan suatu jabatan sepele. Seorang ketua lingkungan bersinggungan langsung dengan unsur-unsur gereja paling kecil, yaitu umatnya. Dan tugas itu tidak bisa diabaikan begitu saja. “Sandal Jepit Gereja” mencubit kita, sehingga terbangun dan membika mata lebar-lebar bahwa mereka tidak bisa dipandang dengan sebelah mata.

Buku ini mengajak kita berefleksi dengan keadaan dan situasi serta perkembangan masa depan Gereja. Dalam buku ini dikisahkan bahwa akar pun dapat berfungsi lebih baik daripada rotan. Rotan yang tidak dipergunakan tidak ada artinya, dibandingkan akar yang berfungsi atau difungsikan. Sebuah akar, jika difungsikan dengan baik, akan lebih baik daripada rotan yang disimpan.

Seorang ketua Lingkungan pun kerap masuk daftar buruan para Calon Anggota Dewan. Ada saja ulah mereka untuk memohon agar sang Keling (ketua lingkungan) mempengaruhi warganya untuk memilih nama salah seorang caleg. Bagaimana sang tokoh menghadapi hal itu?

Kisah-kisah lainnya terkait hubungan dengan agama lain dalam suatu komunitas, menghadapi warga yang mantan pejabat dan susah diatur, bagaimana keraguan sang ketua Lingkungan untuk memenuhi harapan gereja terhadapnya, serta pengorbanan yang harus dilakukannya.

Sandal Jepit laksana kumpulan reality show yang inspiratif dari seorang ketua lingkungan tentang hidup menggereja yang dibukukan. (panjikristo)

Sumber: Majalah Hidup 29 November 2009

Reblog this post [with Zemanta]